10 November 2020

 HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER 2020


Peristiwa 10 Nopember 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh Bangsa Indonesia di latarbelakangi oleh kedatangan tentara sekutu ke Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 yang dalam hal ini adalah tentara Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha di bawah kepemimpinan Brigadir Mallaby. Tugas tentara sekutu ke Indonesia adalah untuk melucutu senjata tentara Jepang yang kalah perang pada perang dunia ke II. Sayang tugas tentara sekutu untuk melucuti tentara jepang ternyata dimanfaatkan oleh tentara sekutu untuk membebaskan para tahanan perang tentara Belanda secara sepihak bahkan melucuti senjata para pemuda. Tindakan itu memicu komplik dengan para pemuda Surabaya yang pada akhirnya menimbulkan bentrokan bersenjata di seluruh kota Surabaya. Para pemuda dengan senjata seadanya hasil rampasan dari tentara jepang digunakan untuk menyerang kedudukan sekutu di Surabaya. Pos-pos tentara sekutu di serang dan dihancurkan yang pada akhirnya membuat kedudukan tentara Sekutu di Surabaya terdesak dan hampir tamat. 

Melihat tentara Sekutu di Surabaya semakin terdesak dan kesulitan mengatasi situasi, Para pemimpin tentara Sekutu yang ada di Jakarta meminta bantuan Soekarno untuk mengatasi situasi dan berunding. Soekarno dan para pejabat lain pemerintahan Republik Indonesia datang ke Surabaya berkonvoi berkeliling kota untuk menenangkan situasi yang sedang panas. Dari pihak Sekutu yang turut berkonvoi salahsatunya adalah Brigadir Jenderal AWS Mallaby. sesampainya di jempatan merah di depan gedung Internatio rombongan terhenti. Mereka terhenti oleh aksi para pemuda yang meminta Sekutu untuk mengosongkan gedung tersebut yang dihuni oleh tentara Sekutu Inggris berdarah India. Sampai pada akhirnya terjadi insiden yang tidak terduga terjadi letusan tembakan dan suara granat. Dari peristiwa tersebut menyebabkan terbunuhnya sang Jenderal Sekutu AWS Mallaby.


Akibat dari kematian Mallaby tersebut membuat tentara Sekutu murka, pada tanggal 9 Nopember Sekutu mengeluarkan ultimatum atau ancaman yang dikirimkan lewat selebaran dari pesawat udara. Sekutu menuntut agar semua senjata yang dipegang warga Surabaya diserahkan kepada tentara Sekutu sebelum pukul 06.00 pagi pada hari berikutnya atau esok pagi tanggal 10 Nopember 1945. Selain memberikan senjata, pihak Indonesia harus mengangkat kedua belah tangan ke atas kepala untuk menandatangani pengakuan menyerah kepada Sekutu.

Ultimatum tentara sekutu tersebut tidak diindahkan oleh rakyat Surabaya atau dikenal dengan sebutan "Arek-arek Suroboyo". Maka mulai dari pukul 06.00 pagi waktu setempat tanggal 10 Nopember 1945 Surabaya digempur dan dibombardir oleh tentara Sekutu dari darat laut dan udara.



Bung Tomo melalui pidatonya yang berapi-api membakar semangat Arek-arek Suroboyo untuk bangkit melawan Sekutu sampai titik darah yang penghabisan. Pertempuran Surabaya yang berlangsung lebih dari tiga minggu telah menyebabkan ribuan pahlawan gugur sebagai suhada bangsa dan sebagian masyarakat mengungsi ke luar kota Surabaya yang telah dihancurkan oleh Sekutu.



Untuk mengenang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya maka ditetapkan pada hari itu setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai HARI PAHLAWAN. (IS)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desiminasi Raport Pendidikan, Perencanaan berbasis data dan KOSP

Desiminasi Raport pendidikan, Perencanaan berbasis data dan Kurikulum Operasional Pendidikan (KOSP) dilaksanakan pada hari senin 5 Oktober 2...