19 November 2020

Membangun budaya "LITERASI" Sekolah bersama Yayasan Gugah Nurani Indonesia 


Gerakan literasi sekolah telah dicanangkan oleh pemerintah melalui kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah gerakan partisipatif yang melibatkan seluruh warga sekolah dari mulai peserta didik, guru, tenaga kependidikan (Pustakawan, Tata Usaha, Penjaga Sekolah), Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Orangtua siswa dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah.

Dalam Kurikulum 2013 kegiatan Literasi merupakan kegiatan pembiasaan yang wajib dilakukan selama 15 menit sebelum proses pembelajaran. Pada pelaksanaannya kegiatan pembiasaan literasi baca ini yang dirasakan selama ini terkendala dengan minimnya jumlah koleksi buku yang dimiliki oleh sekolah terutama buku-buku fiksi atau cerita.

Adalah sebuah Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) yang dikomandoi oleh Ibu Mekar Damayanti Sianipar memfasilitasi kekurangan tersebut. Melalui salahsatu kegiatannya Yayasan GNI memberikan bantuan mobil perpustakaan keliling untuk meminjamkan buku ke sekolah-sekolah SD atau MI yang ada di wilayah Kecamatan Bojongmangu. Seyogyanya kegiatan perpustakaan keliling tersebut untuk menarik minat baca siswa secara langsung atau dengan membaca buku di tempat di sekitar mobil perpustakaan keliling karena suasana Covid-19 belum mereda pada pelaksanaannya mobil perpustakaan keliling  tersebut meminjamkan sejumlah buku ke setiap sekolah untuk dipinjamkan dan dibaca oleh siswa di rumahnya. Kemudian secara berkala buku yang telah dibaca siswa tersebut bergantian dipinjamkan ke siswa yang lain selama waktu yang telah ditentukan. Buku-buku cerita yang telah dibaca bergantian oleh siswa pada akhirnya dikembalikan lagi ke mobil perpustakaan keliling untuk ditukarkan dengan judul buku yang baru.


Dengan adanya bantuan mobil perpustakaan keliling dari Yayasan GNI, telah banyak membantu gerakan literasi baca di SD Negeri Sukabungah 02. Siswa dan siswi terlihat sangat senang dan antusias membaca buku cerita yang menarik, mereka dengan cepat pula menukarkan buku bacaannya setelah selesai mereka baca sampai tamat. Buku cerita yang dipinjamkan oleh mobil perpustakaan keliling itu diatur oleh pihak sekolah melalui petugas yang telah ditunjuk dan diketahui oleh pihak GNI dalam pendistribusian kepada siswa. Sehingga siswa tidak berebut dan dapat saling tukar buku cerita bila telah menamatkannya.

Setelah buku dipinjamkan ke siswa secara bergantian, oleh guru kelasnya siswa diajak untuk membuat laporan buku yang dibacanya, selain itu beberapa siswa melaporkan kegiatannya berupa foto kegiatan yang sedang membaca. Dari penuturan orangtua yang ikut mengantar anaknya yang menukarkan buku di sekolah mereka merasa bahagia dan mengucapkan terikamasih atas kegiatan yang difasilitasi oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Semoga ke depan kegiatan literasi yang lainnya bisa difasilitasi juga ungkapnya.

Dari salahsatu kegiatan yang telah dilakukan bersama Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) yaitu melalui mobil perpustakaan kelilingnya dapat meningkatkan minat baca siswa sehingga kegiatan literasi baca di SDN Sukabungah 02 bukan cuma sebuah gerakan tetapi menjadi sebuah budaya. (IS) 





10 November 2020

 HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER 2020


Peristiwa 10 Nopember 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh Bangsa Indonesia di latarbelakangi oleh kedatangan tentara sekutu ke Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 yang dalam hal ini adalah tentara Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha di bawah kepemimpinan Brigadir Mallaby. Tugas tentara sekutu ke Indonesia adalah untuk melucutu senjata tentara Jepang yang kalah perang pada perang dunia ke II. Sayang tugas tentara sekutu untuk melucuti tentara jepang ternyata dimanfaatkan oleh tentara sekutu untuk membebaskan para tahanan perang tentara Belanda secara sepihak bahkan melucuti senjata para pemuda. Tindakan itu memicu komplik dengan para pemuda Surabaya yang pada akhirnya menimbulkan bentrokan bersenjata di seluruh kota Surabaya. Para pemuda dengan senjata seadanya hasil rampasan dari tentara jepang digunakan untuk menyerang kedudukan sekutu di Surabaya. Pos-pos tentara sekutu di serang dan dihancurkan yang pada akhirnya membuat kedudukan tentara Sekutu di Surabaya terdesak dan hampir tamat. 

Melihat tentara Sekutu di Surabaya semakin terdesak dan kesulitan mengatasi situasi, Para pemimpin tentara Sekutu yang ada di Jakarta meminta bantuan Soekarno untuk mengatasi situasi dan berunding. Soekarno dan para pejabat lain pemerintahan Republik Indonesia datang ke Surabaya berkonvoi berkeliling kota untuk menenangkan situasi yang sedang panas. Dari pihak Sekutu yang turut berkonvoi salahsatunya adalah Brigadir Jenderal AWS Mallaby. sesampainya di jempatan merah di depan gedung Internatio rombongan terhenti. Mereka terhenti oleh aksi para pemuda yang meminta Sekutu untuk mengosongkan gedung tersebut yang dihuni oleh tentara Sekutu Inggris berdarah India. Sampai pada akhirnya terjadi insiden yang tidak terduga terjadi letusan tembakan dan suara granat. Dari peristiwa tersebut menyebabkan terbunuhnya sang Jenderal Sekutu AWS Mallaby.


Akibat dari kematian Mallaby tersebut membuat tentara Sekutu murka, pada tanggal 9 Nopember Sekutu mengeluarkan ultimatum atau ancaman yang dikirimkan lewat selebaran dari pesawat udara. Sekutu menuntut agar semua senjata yang dipegang warga Surabaya diserahkan kepada tentara Sekutu sebelum pukul 06.00 pagi pada hari berikutnya atau esok pagi tanggal 10 Nopember 1945. Selain memberikan senjata, pihak Indonesia harus mengangkat kedua belah tangan ke atas kepala untuk menandatangani pengakuan menyerah kepada Sekutu.

Ultimatum tentara sekutu tersebut tidak diindahkan oleh rakyat Surabaya atau dikenal dengan sebutan "Arek-arek Suroboyo". Maka mulai dari pukul 06.00 pagi waktu setempat tanggal 10 Nopember 1945 Surabaya digempur dan dibombardir oleh tentara Sekutu dari darat laut dan udara.



Bung Tomo melalui pidatonya yang berapi-api membakar semangat Arek-arek Suroboyo untuk bangkit melawan Sekutu sampai titik darah yang penghabisan. Pertempuran Surabaya yang berlangsung lebih dari tiga minggu telah menyebabkan ribuan pahlawan gugur sebagai suhada bangsa dan sebagian masyarakat mengungsi ke luar kota Surabaya yang telah dihancurkan oleh Sekutu.



Untuk mengenang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya maka ditetapkan pada hari itu setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai HARI PAHLAWAN. (IS)





Desiminasi Raport Pendidikan, Perencanaan berbasis data dan KOSP

Desiminasi Raport pendidikan, Perencanaan berbasis data dan Kurikulum Operasional Pendidikan (KOSP) dilaksanakan pada hari senin 5 Oktober 2...